About Me

Foto saya
Karawang, Muara Teweh, Indonesia

"THE ONE MINUTE, FATHER"

seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekadar mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Ghifa, "Ayah, emang ayah kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan ?" Sembari mengernyitkan dahi si ayah menjawab,"Ya, sekitar Rp 2.500.000,- !" "Kalau sehari berarti berapa, yah ?" sela Ghifa. Ayah mulai bingung, "Seratus ribu rupiah, ada apa sih ? Kok tanya gaji segala !" Akan tetapi Ghifa tetap bertanya kembali, "Kalau setengah hari berarti Rp 50.000,- dong ?" "Iya, emangnya kenapa ?" sahut sang ayah mulai jengkel. Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, "Gini yah ! Tolong tambahin dong tabungan Ghifa, Rp 5.000,- saja. Soalnya Ghifa sudah punya tabungan sebesar Rp 45.000,-. Rencananya Ghifa mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi memancing bersama !" ***** SATU hal yang sering menjadi kendala kita sebagai ayah dalam membangun tatanan keluarga yang tangguh dan harmonis adalah si pencuri waktu. Urusan kantor, bisnis sampingan maupun kegemaran pribadi acapkali menjadi musuh dalam selimut yang secara tidak langsung merongrong kesempatan emas yang kita miliki untuk bercengkerama dengan anak. Dalih yang biasa dipergunakan oleh si pencuri waktu sendiri adalah demi masa depan keluarga, loyalitas kerja atau untuk membiarkan asap dapur tetap ngebul. Siapa ayah sebenarnya ? Ketika masih kecil, kerapkali anak mengklaim bahwa pahlawan (hero) yang paling hebat adalah ayahnya sendiri. Sering pula anak melakukan proses identifikasi dengan 'ke-pria-an' yang diaktualisasikan sang ayah. Bunyi yang paling menggetarkan didengar oleh sang ayah, ketika untuk pertama kalinya si anak mengatakan, "Papa" atau "Ayah" atau "Abah" atau sebutan lain. Seorang filsuf mengatakan, pohon dikenal melalui buahnya (like father like son). Setelah besar dan menginjak remaja atau pemuda, tidak jarang posisi ayah yang tadinya pahlawan beralih menjadi musuh. Investasi terindah yang dapat kita berikan kepada putra-putri kita adalah waktu dan kualitas komunikasi yang proporsional bagi mereka. "Kehadiran dan percakapan Ayah dihadapan anak-anaknya, lebih dari ribuan hadiah". Kurangnya komunikasi di rumah akan membuat anak mencari informasi dari dunia luar rumah yang belum tentu benar adanya. "Apa yang ditabur, itu pula yang dituai", demikian pepatah lama masih terngiang jernih dalam ingatan kita. Ketika anak masih kecil, sebagai orangtua (ayah) jarang mendengarkan mereka. Setelah mereka besar, merekapun akan jarang mendengarkan orangtuanya. Inilah awal mulanya terkenal istilah kenakalan remaja, yang secara tidak sadar dikontribusikan terlebih dahulu oleh kenakalan orangtuanya, yang telah berselingkuh dengan si pencuri waktu. Cara terbaik agar anak-anak mendengarkan kita adalah dengan mendengarkan mereka. Bagi si anak, didengarkan merupakan bagian penting dalam implementasi cinta orangtuanya. Jika ditelusuri lebih lanjut, memang ada perbedaan besar antara dicintai dan merasa dicintai. Bill Havens, seorang pendayung hebat berskala internasional ketika dalam masa karantina untuk persiapan kejuaraan dunia mendayung menerima teleks yang mengatakan bahwa istrinya kemungkinan dalam 2-3 hari lagi akan melahirkan. Setelah menerima kabar, Bill memilih dan memutuskan berangkat ke kota asalnya dan berpamitan untuk tidak mengikuti kejuaraan dunia yang telah dipersiapkan baginya. Ia memutuskan untuk menunggui istrinya yang akan melahirkan ketika itu. Berpuluh tahun kemudian, Bill Havens mendapatkan telegram dari putranya, Frank, yang baru saja memenangkan medali emas dalam final kano 10.000 meter pada Olimpiade di Helsinki, Finlandia. Telegram tersebut berbunyi, "Ayah, terima kasih karena telah menunggui kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yang seharusnya Ayah menangkan beberapa tahun yang lalu... anakmu tersayang, Frank". Bekerja tidak akan memberikan investasi lebih permanen jika dibandingkan dengan memberikan waktu yang cukup untuk anak dan keluarga. Usia 55-60 tahun merupakan akhir dan perhentian berkarya, namun karya yang diinvestasikan dalam kenangan anak tidak akan berakhir hingga maut yang memisahkannya. Pilihan, tentu ada dalam diri masing-masing, namun Bill Havens dalam cerita di atas telah memilih yang terbaik. Mungkin lagu yang pernah kita dengar sebelumnya dapat kita dengar kembali dari alam sana menjadi senandung terindah, ketika anak-anak yang kita kasihi menyanyikan lagu Rinto Harahap: "Untuk Ayah tercinta, aku ingin bernyanyi. Walau air mata dipipiku. Ayah dengarkanlah, aku ingin bertemu. Walau hanya dalam mimpi".

Tidak ada komentar: