Kenanglah Ibu yang menyayangimu...
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi...
Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu...
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu..? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit..?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.
Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut.
Jangan biarkan engkau kehilangan saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada...
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita...
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia...
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan...
Tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit...
Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu di setiap hembusan nafasnya...
Kembalilah segera...
Peluklah ibu yang selalu menyayangimu...
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.
Sahabat... berdo'alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya.
Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu...
Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya...
Ibu... maafkan aku...
Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas.
About Me
"THE ONE MINUTE, FATHER"
seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekadar mengajaknya bermain. Suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Ghifa, "Ayah, emang ayah kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan ?" Sembari mengernyitkan dahi si ayah menjawab,"Ya, sekitar Rp 2.500.000,- !" "Kalau sehari berarti berapa, yah ?" sela Ghifa. Ayah mulai bingung, "Seratus ribu rupiah, ada apa sih ? Kok tanya gaji segala !" Akan tetapi Ghifa tetap bertanya kembali, "Kalau setengah hari berarti Rp 50.000,- dong ?" "Iya, emangnya kenapa ?" sahut sang ayah mulai jengkel. Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, "Gini yah ! Tolong tambahin dong tabungan Ghifa, Rp 5.000,- saja. Soalnya Ghifa sudah punya tabungan sebesar Rp 45.000,-. Rencananya Ghifa mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi memancing bersama !" ***** SATU hal yang sering menjadi kendala kita sebagai ayah dalam membangun tatanan keluarga yang tangguh dan harmonis adalah si pencuri waktu. Urusan kantor, bisnis sampingan maupun kegemaran pribadi acapkali menjadi musuh dalam selimut yang secara tidak langsung merongrong kesempatan emas yang kita miliki untuk bercengkerama dengan anak. Dalih yang biasa dipergunakan oleh si pencuri waktu sendiri adalah demi masa depan keluarga, loyalitas kerja atau untuk membiarkan asap dapur tetap ngebul. Siapa ayah sebenarnya ? Ketika masih kecil, kerapkali anak mengklaim bahwa pahlawan (hero) yang paling hebat adalah ayahnya sendiri. Sering pula anak melakukan proses identifikasi dengan 'ke-pria-an' yang diaktualisasikan sang ayah. Bunyi yang paling menggetarkan didengar oleh sang ayah, ketika untuk pertama kalinya si anak mengatakan, "Papa" atau "Ayah" atau "Abah" atau sebutan lain. Seorang filsuf mengatakan, pohon dikenal melalui buahnya (like father like son). Setelah besar dan menginjak remaja atau pemuda, tidak jarang posisi ayah yang tadinya pahlawan beralih menjadi musuh. Investasi terindah yang dapat kita berikan kepada putra-putri kita adalah waktu dan kualitas komunikasi yang proporsional bagi mereka. "Kehadiran dan percakapan Ayah dihadapan anak-anaknya, lebih dari ribuan hadiah". Kurangnya komunikasi di rumah akan membuat anak mencari informasi dari dunia luar rumah yang belum tentu benar adanya. "Apa yang ditabur, itu pula yang dituai", demikian pepatah lama masih terngiang jernih dalam ingatan kita. Ketika anak masih kecil, sebagai orangtua (ayah) jarang mendengarkan mereka. Setelah mereka besar, merekapun akan jarang mendengarkan orangtuanya. Inilah awal mulanya terkenal istilah kenakalan remaja, yang secara tidak sadar dikontribusikan terlebih dahulu oleh kenakalan orangtuanya, yang telah berselingkuh dengan si pencuri waktu. Cara terbaik agar anak-anak mendengarkan kita adalah dengan mendengarkan mereka. Bagi si anak, didengarkan merupakan bagian penting dalam implementasi cinta orangtuanya. Jika ditelusuri lebih lanjut, memang ada perbedaan besar antara dicintai dan merasa dicintai. Bill Havens, seorang pendayung hebat berskala internasional ketika dalam masa karantina untuk persiapan kejuaraan dunia mendayung menerima teleks yang mengatakan bahwa istrinya kemungkinan dalam 2-3 hari lagi akan melahirkan. Setelah menerima kabar, Bill memilih dan memutuskan berangkat ke kota asalnya dan berpamitan untuk tidak mengikuti kejuaraan dunia yang telah dipersiapkan baginya. Ia memutuskan untuk menunggui istrinya yang akan melahirkan ketika itu. Berpuluh tahun kemudian, Bill Havens mendapatkan telegram dari putranya, Frank, yang baru saja memenangkan medali emas dalam final kano 10.000 meter pada Olimpiade di Helsinki, Finlandia. Telegram tersebut berbunyi, "Ayah, terima kasih karena telah menunggui kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yang seharusnya Ayah menangkan beberapa tahun yang lalu... anakmu tersayang, Frank". Bekerja tidak akan memberikan investasi lebih permanen jika dibandingkan dengan memberikan waktu yang cukup untuk anak dan keluarga. Usia 55-60 tahun merupakan akhir dan perhentian berkarya, namun karya yang diinvestasikan dalam kenangan anak tidak akan berakhir hingga maut yang memisahkannya. Pilihan, tentu ada dalam diri masing-masing, namun Bill Havens dalam cerita di atas telah memilih yang terbaik. Mungkin lagu yang pernah kita dengar sebelumnya dapat kita dengar kembali dari alam sana menjadi senandung terindah, ketika anak-anak yang kita kasihi menyanyikan lagu Rinto Harahap: "Untuk Ayah tercinta, aku ingin bernyanyi. Walau air mata dipipiku. Ayah dengarkanlah, aku ingin bertemu. Walau hanya dalam mimpi".
MENYIKAPI KESALAHAN
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”. (QS. Ali Imron: 133-134.
Alam berinteraksi dengan masyarakat, mau tidak mau, suka tidak suka, sengaja atau tidak sengaja pasti akan terjadi singung menyinggung dan luka melukai perasaan. Andai kat perasaan kita yang terluka atau dilukai oleh orang lain, maka islam mengajarkan tiga sikap meresponya. Pertama; menahan amarah, kedua; memberi maaf; dan yang Ketiga; membalasnya dengan perbuatan baik, dan yang ketiga paling baik.
Alam berinteraksi dengan masyarakat, mau tidak mau, suka tidak suka, sengaja atau tidak sengaja pasti akan terjadi singung menyinggung dan luka melukai perasaan. Andai kat perasaan kita yang terluka atau dilukai oleh orang lain, maka islam mengajarkan tiga sikap meresponya. Pertama; menahan amarah, kedua; memberi maaf; dan yang Ketiga; membalasnya dengan perbuatan baik, dan yang ketiga paling baik.
MENYIKAPI KESULITAN
Tidak ada kesulitan hidup yang Allah hadiahkan kepada kita kecuali Allah tau kita mampu mengatasinya dekatkan diri kepada Allah dan mohonlah pertolongan hanya darinya dengan jalan Sholat-sholat, doa dan sodakoh.
Harta tidak akan pernah ada cukupnya dan keinginan tidak pernah akan ada habisnya bila hanya dua hal ini yang hanya dikejar niscaya ketenangan dan kebahagiaan justu akan menjauh, ada hati yang bisa berkata ada ruh yang bisa bicara keduanya jangan sampai mati sebelum jasad mati, perbanyak berzikir dijalan Allah dan perbanyak sodaqoh.
Harta tidak akan pernah ada cukupnya dan keinginan tidak pernah akan ada habisnya bila hanya dua hal ini yang hanya dikejar niscaya ketenangan dan kebahagiaan justu akan menjauh, ada hati yang bisa berkata ada ruh yang bisa bicara keduanya jangan sampai mati sebelum jasad mati, perbanyak berzikir dijalan Allah dan perbanyak sodaqoh.
BERIKAN SENYUMAN TERINDAH
Langganan:
Postingan (Atom)


